Menebar Benih Kedamaian: Mengapa Pidana Saja Tidak Cukup Memutus Rantai Kekerasan di Sekolah

Potret kalteng 14 Mei 2026, 23:21:15 WIB Palangka Raya
Menebar Benih Kedamaian: Mengapa Pidana Saja Tidak Cukup Memutus Rantai Kekerasan di Sekolah

Keterangan Gambar : Oleh: Manat Simanjuntak Mahasiswa Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya (UPR)





Baca Lainnya :

PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM- Dunia pendidikan kita hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang sunyi. Di satu sisi, kita bangga dengan gedung-gedung sekolah yang semakin megah dan teknologi yang kian canggih. Namun, di sisi lain, kita seringkali menutup mata terhadap luka yang menganga di sanubari anak-anak kita akibat perundungan dan kekerasan.

Sebagai insan hukum, saya menyadari bahwa instrumen hukum pidana hadir sebagai benteng terakhir (ultimum remedium). Ketegasan hukum memang perlu untuk memberikan efek jera dan keadilan bagi korban. Namun, kita harus bertanya pada nurani yang paling dalam: "Apakah menghukum sang pelaku otomatis menyembuhkan luka korban dan menjamin kekerasan tidak akan terulang kembali?"

Melampaui Jeruji, Menyentuh Akar Masalah

Fenomena kekerasan di sekolah ibarat gunung es. Apa yang tampak ke permukaan—kasus yang viral, laporan polisi, atau persidangan—hanyalah bongkahan kecil dari realitas yang jauh lebih besar di bawah permukaan laut. Di bawah sana, terdapat ribuan tangisan yang tertahan, rasa takut yang membungkam mulut, dan budaya abai yang seolah-olah menganggap perundungan adalah "bagian dari pendewasaan".



Jika kita hanya mengandalkan hukum pidana, kita hanya sedang memotong dahan yang layu tanpa mencabut akar penyakitnya. Hukum seringkali datang terlambat—ia datang saat air mata sudah tumpah dan trauma sudah menetap.



Pencegahan: Sebuah Tanggung Jawab Kolektif

Upaya pencegahan bukanlah sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral dan konstitusional kita bersama. Sekolah harus menjadi tempat yang paling aman setelah rumah, bukan "rimba" di mana yang kuat memangsa yang lemah.



• Pendidikan Karakter Berbasis Empati: Kurikulum kita harus mampu mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa adab adalah sia-sia. Siswa perlu dilatih untuk merasa, bukan hanya untuk menghafal.


• Solidaritas Tanpa Batas: Kita butuh gerakan di mana siswa tidak lagi menjadi penonton (bystanders) yang diam, melainkan pembela (upstanders) yang berani merangkul teman yang tersisih.


• Kehadiran Guru yang Peduli: Guru bukan sekadar pengajar materi, tapi penjaga jiwa. Mata mereka harus mampu menangkap kesedihan di balik senyum paksa seorang murid.


Harapan untuk Masa Depan

Kekerasan di lingkungan sekolah adalah cermin retak dari masyarakat kita. Mengatasinya tidak cukup dengan palu hakim, tapi dengan pelukan hangat, dialog yang tulus, dan kepedulian yang nyata.



Mari kita berhenti menunggu sampai jatuh korban berikutnya baru kita bersuara. Karena sesungguhnya, membiarkan kekerasan terjadi di depan mata kita tanpa melakukan apa pun adalah bentuk ketidakadilan yang paling nyata.



Berani Peduli, Berani Melindungi. Sebab sekolah adalah rumah tempat menyemai mimpi, bukan tempat mengubur harga diri.

Opini ini merupakan refleksi mendalam atas urgensi sinergi antara penegakan hukum dan preventifitas sosial demi menciptakan ruang belajar yang manusiawi di Indonesia.







+ Indexs Berita

Berita Utama

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment