- Hadapi Kemarau, Pemkab Mura Dorong Masyarakat Permata Intan Tingkatkan Kesiapsiagaan
- Pemkab Murung Raya Dorong Penguatan Integritas dan Pelayanan Publik Bersih
- Pemkab Mura Ajak Warga Laung Tuhup Bersama Cegah Karhutla
- Pemkab Murung Raya Perkuat Sinergi Perangkat Daerah Dorong Pembangunan Responsif Gender
- Warnita Heriyus Ajak Pemkab dan Masyarakat Bersama Cetak Generasi Unggul Murung Raya
- Bupati Murung Raya Hadiri HUT ke-I Kodam XXII/Tambun Bungai, Perkuat Sinergi Pemerintah dan TNI
- Sambut HUT ke-81 RI, Pemkab Murung Raya Perkuat Koordinasi Lintas Sektor
- Rahmanto Muhidin Tekankan Pemkab Mura Harus Hadir dan Bekerja untuk Masyarakat
- Pemkab Murung Raya Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Karhutla
- Sambut HUT Kemerdekaan, Pemkab Mura Matangkan Kesiapan Seluruh Perangkat Daerah
Menebar Benih Kedamaian: Mengapa Pidana Saja Tidak Cukup Memutus Rantai Kekerasan di Sekolah

Keterangan Gambar : Oleh: Manat Simanjuntak Mahasiswa Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya (UPR)
Baca Lainnya :
- Opini Hukum: Emas Ilegal Sebagai Instrumen Pencucian Uang di Era Modern0
- Juni Gultom Nahkodai PODSI Kalteng0
- Gandeng Pusat Studi Kepolisian, Pemprov dan Polda Kalteng Transformasi Layanan Lalu Lintas Digital0
- Perkuat Lumbung Pangan, Pemkab Kapuas Teken Kontrak Swakelola Cetak Sawah di Depok0
- Wakil Bupati Kapuas Lepas Kontingen FBIM 2026, Targetkan Prestasi di Palangka Raya0
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM- Dunia pendidikan kita hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang sunyi. Di satu sisi, kita bangga dengan gedung-gedung sekolah yang semakin megah dan teknologi yang kian canggih. Namun, di sisi lain, kita seringkali menutup mata terhadap luka yang menganga di sanubari anak-anak kita akibat perundungan dan kekerasan.
Sebagai insan hukum, saya menyadari bahwa instrumen hukum pidana hadir sebagai benteng terakhir (ultimum remedium). Ketegasan hukum memang perlu untuk memberikan efek jera dan keadilan bagi korban. Namun, kita harus bertanya pada nurani yang paling dalam: "Apakah menghukum sang pelaku otomatis menyembuhkan luka korban dan menjamin kekerasan tidak akan terulang kembali?"
Melampaui Jeruji, Menyentuh Akar Masalah
Fenomena kekerasan di sekolah ibarat gunung es. Apa yang tampak ke permukaan—kasus yang viral, laporan polisi, atau persidangan—hanyalah bongkahan kecil dari realitas yang jauh lebih besar di bawah permukaan laut. Di bawah sana, terdapat ribuan tangisan yang tertahan, rasa takut yang membungkam mulut, dan budaya abai yang seolah-olah menganggap perundungan adalah "bagian dari pendewasaan".
Jika kita hanya mengandalkan hukum pidana, kita hanya sedang memotong dahan yang layu tanpa mencabut akar penyakitnya. Hukum seringkali datang terlambat—ia datang saat air mata sudah tumpah dan trauma sudah menetap.
Pencegahan: Sebuah Tanggung Jawab Kolektif
Upaya pencegahan bukanlah sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral dan konstitusional kita bersama. Sekolah harus menjadi tempat yang paling aman setelah rumah, bukan "rimba" di mana yang kuat memangsa yang lemah.
• Pendidikan Karakter Berbasis Empati: Kurikulum kita harus mampu mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa adab adalah sia-sia. Siswa perlu dilatih untuk merasa, bukan hanya untuk menghafal.
• Solidaritas Tanpa Batas: Kita butuh gerakan di mana siswa tidak lagi menjadi penonton (bystanders) yang diam, melainkan pembela (upstanders) yang berani merangkul teman yang tersisih.
• Kehadiran Guru yang Peduli: Guru bukan sekadar pengajar materi, tapi penjaga jiwa. Mata mereka harus mampu menangkap kesedihan di balik senyum paksa seorang murid.
Harapan untuk Masa Depan
Kekerasan di lingkungan sekolah adalah cermin retak dari masyarakat kita. Mengatasinya tidak cukup dengan palu hakim, tapi dengan pelukan hangat, dialog yang tulus, dan kepedulian yang nyata.
Mari kita berhenti menunggu sampai jatuh korban berikutnya baru kita bersuara. Karena sesungguhnya, membiarkan kekerasan terjadi di depan mata kita tanpa melakukan apa pun adalah bentuk ketidakadilan yang paling nyata.
Berani Peduli, Berani Melindungi. Sebab sekolah adalah rumah tempat menyemai mimpi, bukan tempat mengubur harga diri.
Opini ini merupakan refleksi mendalam atas urgensi sinergi antara penegakan hukum dan preventifitas sosial demi menciptakan ruang belajar yang manusiawi di Indonesia.
Berita Utama
-
Gubernur Agustiar Pimpin Rakor Karhutla, Tegaskan Percepatan Penanganan Kebakaran
Gubernur Agustiar Pimpin Rakor Karhutla, Tegaskan Percepatan Penanganan Kebakaran
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran didampingi Wakil Gubernur Edy Pratowo memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Kebakaran . . .
-
Pengurus IKA ULM Kalteng Periode 2026–2030 Resmi Dilantik
Pengurus IKA ULM Kalteng Periode 2026–2030 Resmi Dilantik
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Ahmad Alim Bachri melantik Pengurus Ikatan Keluarga Alumni Universitas Lambung Mangkurat . . .
-
Pemprov Kalteng Ajak Alumni ULM Perkuat Sinergi dan Kolaborasi Pembangunan
Pemprov Kalteng Ajak Alumni ULM Perkuat Sinergi dan Kolaborasi Pembangunan
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) mendorong Ikatan Keluarga Alumni Universitas Lambung Mangkurat (IKA ULM) . . .
-
Dinas Pendidikan Kalteng Disorot soal Aktivitas Siswa di Tengah Ancaman Kabut Asap
Dinas Pendidikan Kalteng Disorot soal Aktivitas Siswa di Tengah Ancaman Kabut Asap
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah kembali menjadi perhatian. Kondisi tersebut . . .
-
Diduga Rugikan Negara 3,9 Milyar, 4 Pejabat Dinas Perhubungan Barut Resmi Ditahan
Diduga Rugikan Negara 3,9 Milyar, 4 Pejabat Dinas Perhubungan Barut Resmi Ditahan
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Penyidik Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah secara resmi menyerahkan empat orang tersangka beserta barang bukti atau Tahap II . . .

















