- Polres Kapuas Raih Dua Penghargaan Nasional di Hari Bhayangkara ke-80
- Bupati Murung Raya Hadiri Hari Jadi ke-76 Kabupaten Barito Utara, Perkuat Sinergi Antardaerah
- Bupati Murung Raya Hadiri Hari Jadi ke-76 Kabupaten Barito Utara, Perkuat Sinergi Antardaerah
- HUT ke-24 Gunung Mas, Bupati Murung Raya Heriyus Sampaikan Apresiasi Pembangunan
- Bupati Murung Raya Hadiri HUT ke-24 Gunung Mas, Dorong Penguatan Kemandirian Daerah
- Banmus DPRD Kalteng Matangkan Agenda Persidangan dan Program Prioritas Daerah
- Banmus DPRD Kalteng Sinkronkan Agenda Persidangan dan Program Strategis Daerah
- Pemkab Murung Raya Sampaikan Jawaban atas Masukan Fraksi DPRD soal Pertanggungjawaban APBD 2025
- Rahmanto Muhidin Dipercaya Pimpin KKB Murung Raya Periode 2026–2031
- Pemkab Murung Raya Bantu 230 Pasang Sepatu Sekolah untuk Siswa
Memahami Pernikahan Beda Suku atau Eksogami Menurut Pandangan Masyarakat di Indonesia
Oleh : Ity Triana Wineini (203010601034)

Keterangan Gambar : Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya
Perkawinan merupakan salah satu budaya yang beraturan yang mengikuti perkembangan budaya manusia dalam kehidupan masyarakat. Dalam masyarakat sederhana budaya perkawinannya sederhana, sempit dan tertutup, dalam masyarakat yang maju (modern) budaya perkawinannya maju, luas dan terbuka.
Budaya perkawinan dan aturannya yang berlaku pada suatu masyarakat atau pada suatu bangsa tidak terlepas dari pengaruh budaya dan lingkungan di mana masyarakat itu berada serta per gaulan masyarakatnya. Ia dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, kepercayaan dan keagamaan yang dianut masyarakat bersangkutan.
Seperti halnya aturan perkawinan bangsa Indonesia bukan saja dipengaruhi adat budaya masyarakat setempat, tetapi juga dipengaruhi ajaran agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen, bahkan dipengaruhi budaya perkawinan barat. Hal mana berakibat lain padang lain belalang lain lubuk lain ikannya, lain masyarakat lain aturan perkawinannya.
Baca Lainnya :
- Kapolda Imbau Pemudi Terus Hati-hati di Puncak Arus Balik 6-8 Mei 0
- Obat Aborsi Asli Ampuh Aman Di Gunakan Sebagai Obat Penggugur Janin0
- Pelabuhan Selat Kapuas Mulai Beroperasi 0
- Dukung Proyek Perkeretaapian di Kalteng, Wagub Kalteng Tandatangani Nota Kesepakatan Dengan PT INKA0
- Ditpolairud Polda Kalteng Terus Bagikan Takjil Kepada Warga Menjelang Berakhirnya Bulan Puasa0
Menurut undang-undang perkawinan yang dikenal dengan undang undang No. 1 Tahun 1974 yang dimaksud dengan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
Pernikahan di Indonesia ada bermacam macam dari adat, campuran dan lain-lain. Namun disini saya ingin membahas mengenai pernikahan beda suku atau Eksogami dan bagaimana pandangan masyarakat Indonesia menanggapi pernikahan tersebut.
Adapun hal yang tidak diketahui masyarakat terutama di Indonesia masih mengangap pernikahan beda suku itu hal yang bisa namun masih banyaknya masyarakat menentang perkawinan eksogami itu. Maka dari itu saya membuat artikel ini untuk menambah pengetahuan serta mempelajari pandangan masyarakat terhadap penkawinan eksogami.
Perkawinan eksogami adalah perkawinan yang dilakukan oleh suku, klan, kekerabatan dalam lingkungan yang berbeda atau keluar dari lingkungan aslinya. Suku atau budaya merupakan kultur untuk mencerminkan suatu daerah tertentu yang berawal dari tradisi turun temurun dari nenek moyang. Namun, perlu diketahui bahwa sifat, watak dan karakteristik seseorang bukan diturunkan melalui suku dan budaya melainkan dari genetik orangtua serta pendidikannya.
Faktor-faktor yang menjadi pendorong dilakukannya perkawinan endogami adalah adanya tradisi dari para leluhur, adanya larangan perkawinan, tentang perkawinan ideal, dan hak waris. Tidak sedikit masyarakat Indonesia menolak pernikahan eksogami ini sebagai contoh pada Masyarakat di Indonesia antara pernikahan antara suku Jawa dan Sunda biasanya hal ini terjadi secara turun temurun meskipun saat ini mungkin sudah jarang terdengar.
Contoh lainnya seperti Menurut tinjauan Hukum Islam, larangan adat Suku Bugis menikah dengan suku yang lain sangatlah bertentangan dengan syara‟ karena tidak ada nash yang mengatakan bahwa terlarangnya suatu pernikahan karena larangan adat jadi menurut kasus diatas merupakan pandangan dari masyarakat secara negatif atau masih belum dapat diterimanya pernikahan secara endogami atau berbeda suku dapat dilihat dari contoh diatas masyarakat memberikan hukuman kepada pasangan yang melanggar karena menikah dengan orang bukan berasal dari suku yang sama masih kental di antara masyarakat di Indonesia.
Bagaimana kita memandang sebagai masyarakat Indonesia yang tepatnya berada di Kalimantan Tengah yang memiliki bermacam-macam suku. Masyarakat di Kalimantan Tengah memandang pernikahan eksogami merupakan hal yang masih biasa seperti Batak-Dayak. Tidak sedikit masyarakat menganggap hal ini sesuatu yang baik dengan tujuan agar memperluas keaneka ragaman dan saling menghargai serta menerima perbedaan terhadap perbedaan. Namun tak jarang juga pernikahan Batak-Dayak ini ditolak oleh masyarakat terutama jika pihak perempuannya merupakan Batak dan pihak lelaki dari suku Dayak, masyarakat memandang terbalik bahwa marga yang dimiliki pihak Wanita pun lepas. Berbeda jika pernikahan endogami Batak-Batak masyarakat akan memiliki pandangan positif lebih banyak dari pada pernikahan eksogami Batak-Dayak.
Kesimpulannya Perkawinan eksogami adalah perkawinan yang dilakukan oleh suku, klan, kekerabatan dalam lingkungan yang berbeda atau keluar dari lingkungan aslinya. Dalam pandangan agama apapun sebenarnya tak ada larangan khususnya yang mengatakan tidak boleh menikah dengan suku tertentu. Kemudian cara masyarakat memandang pernikahan berbeda suku atau eksogami bahwa tidak semua pernikahan eksogami dipandang negatif oleh masyarakat di Indonesia namun tidak sedikit juga masyarakat masih belum menerima pernikahan eksogami berbeda suku ini dikarenakan faktor adat turun temurun dalam masyarakat.
Berita Utama
-
Pemkab Murung Raya Bantu 230 Pasang Sepatu Sekolah untuk Siswa
Pemkab Murung Raya Bantu 230 Pasang Sepatu Sekolah untuk Siswa
PURUK CAHU, POTRETKALTENG.COM- Pemerintah Kabupaten Murung Raya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyalurkan bantuan 230 pasang sepatu sekolah kepada siswa dari . . .
-
Kebakaran Dini Hari, Dua Biro Setda Kalteng Dilalap Api
Kebakaran Dini Hari, Dua Biro Setda Kalteng Dilalap Api
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM- Kebakaran terjadi di Kantor Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) dan Biro Perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Kalimantan . . .
-
Jelajah Alam Marabahan Dimeriahkan 500 Rider, Bupati Kapuas Dorong Wisata dan Ekonomi Masyarakat
Jelajah Alam Marabahan Dimeriahkan 500 Rider, Bupati Kapuas Dorong Wisata dan Ekonomi Masyarakat
KUALA KAPUAS, POTRETKALTENG.COM- Sekitar 500 rider dari berbagai daerah turut memeriahkan kegiatan Trail Adhyaksa Jelajah Alam Marabahan (JAM) yang digelar di Kabupaten . . .
-
Banggar DPRD Sampaikan Laporan Hasil Pembahasan KUA-PPAS 2027 dan KUPA-PPAS Perubahan 2026
Banggar DPRD Sampaikan Laporan Hasil Pembahasan KUA-PPAS 2027 dan KUPA-PPAS Perubahan 2026
KUALA KURUN - Badan Anggaran DPRD Kabupaten Gunung Mas (Gumas) menyampaikan laporan atas pembahasan Raperda Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas dan Plafon Anggaran . . .
-
Dishut Kalteng Ikuti Gerakan Pemulihan Ekosistem Serentak
Dishut Kalteng Ikuti Gerakan Pemulihan Ekosistem Serentak
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Tengah turut ambil bagian dalam Gerakan Pemulihan Ekosistem secara serentak dalam . . .

















