Tolak Pinjaman IMF dan Bank Dunia, Menkeu Purbaya: APBN Kuat, Uang Kita Masih Banyak

Potret kalteng 25 Apr 2026, 19:32:56 WIB Nasional
Tolak Pinjaman IMF dan Bank Dunia, Menkeu Purbaya: APBN Kuat, Uang Kita Masih Banyak

Keterangan Gambar : Keterangan foto : Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa.




JAKARTA, POTRETKALTENG.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tetap sehat dan berlapis, bahkan menolak tawaran pinjaman senilai USD 20–30 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam pertemuan Spring Meeting di Washington DC, 13–17 April 2026. Penolakan ini ia sampaikan dengan alasan Indonesia masih memiliki bantalan fiskal yang lebih dari cukup.

Baca Lainnya :


Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026), sekaligus merespons kekhawatiran publik setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam 3,38 persen ke posisi 7.129,49 pada Jumat (24/4/2026) akibat sentimen negatif global.


"APBN kita dalam kondisi baik. Bahkan investor di sana kagum. Mereka sudah tidak lagi mempertanyakan soal defisit dan lain-lain, semuanya sudah jelas bagi mereka," ujar Purbaya.


Optimisme Purbaya bersandar pada cadangan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 420 triliun yang dimiliki pemerintah. Dari jumlah itu, Rp 120 triliun tersimpan di kas pemerintah pada Bank Indonesia, sementara Rp 300 triliun diinjeksikan ke sistem perbankan untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang.


"Tidak perlu takut dengan APBN pemerintah, masih cukup, dan uang kita masih banyak," tegasnya.


Kepercayaan diri Menkeu itu dibuktikan langsung dalam forum Spring Meeting IMF-Bank Dunia di Washington DC pekan lalu. Ketika kedua lembaga menawarkan pinjaman USD 20–30 miliar kepada negara-negara yang terdampak gejolak global, Purbaya menolaknya. Ia menyebut Indonesia masih memegang cadangan devisa sendiri senilai USD 25 miliar, sehingga tidak memerlukan bantuan tersebut.


"Sekarang saya belum butuh. Saya punya SAL sendiri segitu, USD 25 miliar lebih. Jadi kondisi kita aman, defisit terkendali, buffer cukup," kata Purbaya.


Meski demikian, pertemuan dengan IMF dan Bank Dunia tidak berlangsung tanpa perdebatan. Purbaya mengungkap adanya diskusi sengit mengenai cara Indonesia mempertahankan batas defisit 3 persen di tengah kenaikan harga minyak global, yang berdampak langsung pada beban subsidi negara. Kedua lembaga itu juga mengingatkan pemerintah agar tidak berlebihan menggelontorkan subsidi sehingga tidak membebani anggaran jangka panjang.


"Debat seru tentang policy kita dan langkah kita, defisit kita 3% tapi minyak naik gimana cara nutupnya? Kita jelasin ada hemat sana-sini dan pendapatan dari sumber daya alam," ungkap Purbaya, Selasa (21/4/2026).


Di sisi lain, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memuji Indonesia sebagai salah satu "bright spot" dalam perekonomian global berkat kebijakan yang dinilai kredibel dan fundamental yang kuat. Pemerintah sendiri mengklaim komitmen menjaga defisit di bawah 3 persen bukan sekadar target, melainkan sinyal kepada pasar global soal keseriusan pengelolaan fiskal. (FR)







+ Indexs Berita

Berita Utama

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment