- Satresnarkoba Polres Kapuas Ungkap Kasus Sabu 98,16 Gram di Kapuas Hulu
- Bupati Bartim Resmikan Kantor Calon Resort GKE Tamiang Layang Timur, Perkuat Pelayanan Jemaat
- Bupati M. Yamin Buka Safari Ramadhan 1447 H di Masjid Riyadus Solihin Desa Puri
- Polsek Timpah Cek Pemanfaatan Pekarangan Warga di Desa Tumbang Randang, Dorong Ketahanan Pangan
- Ketua DPRD Kapuas Ajak Warga Jaga Keamanan dan Toleransi Selama Ramadhan 1447 H
- Anggota DPRD Kapuas H. Pahmi Imbau Warga Jaga Ketertiban Selama Ramadhan 1447 H
- Penuh Khidmat Keluarga Besar Disdagperin Kalteng Buka Puasa Bersama
- Disbun Kalteng Gelar Khataman Al-Quran dan Buka Puasa Bersama Anak Panti
- Wali Kota Palangka Raya Imbau Perusahaan Swasta Bayar THR Pegawai Tepat Waktu
- Angelina Sondakh Berbagi Kisah Hidup di Bukber Rujab Wali Kota Palangka Raya
Menjaga Ekosistem Gambut: Solusi Iklim dan Sumber Pendapatan Negara

Keterangan Gambar : Oleh: Enrico Rafael Siahaan dan Rahab Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman
OPINI, POTRETKALTENG.COM - Isu perubahan iklim semakin nyata dan mendesak. Cuaca ekstrem, kenaikan suhu global, serta bencana lingkungan lainnya menjadi bukti bahwa dunia sedang menghadapi krisis iklim yang tidak bisa diabaikan. Dalam konteks ini, menjaga kelestarian ekosistem gambut merupakan langkah penting yang memiliki manfaat ganda: sebagai upaya mitigasi perubahan iklim dan sebagai peluang ekonomi melalui mekanisme perdagangan karbon.
Baca Lainnya :
- Politik Usai, Shalahuddin Ajak ASN Bersatu Bangun Barito Utara0
- Prestasi Emas UPR: Riset Hukum Adat Dayak \'Tumbang Anoi\' Lolos Pendanaan PKM Nasional 20250
- RSUD Kapuas Gelar Forum Konsultasi Publik Evaluasi Standar Pelayanan0
- Diduga Jadi Korban Penganiayaan, Pemuda Timpah Alami Luka Tusuk di Tiga Bagian Tubuh0
- Sukses Gelar Lomba Jurnalistik Pelajar 2025, Bupati Wiyatno Apresiasi PWI Kapuas 0
Carbon trading atau perdagangan karbon adalah sistem jual beli kredit emisi karbon yang mempertemukan pihak-pihak yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dengan pihak lain yang melebihi batas emisi yang ditentukan. Dalam skema ini, negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki peluang besar untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, khususnya melalui pelestarian ekosistem alami yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar, seperti hutan dan lahan gambut.
Kalimantan Tengah adalah salah satu provinsi dengan luas lahan gambut yang signifikan, yaitu sekitar 2,55 juta hektare atau sekitar 16,6 persen dari total wilayah provinsi tersebut. Dengan luasan ini, Kalimantan Tengah menyimpan cadangan karbon yang sangat besar. Sayangnya, ekosistem gambut juga merupakan salah satu kawasan yang paling rentan terhadap kerusakan, terutama akibat pembukaan lahan dan kebakaran.
Kerusakan lahan gambut tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga global. Ketika gambut dikeringkan atau dibakar, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca. Inilah yang membuat pelestarian gambut menjadi salah satu strategi mitigasi iklim yang paling efektif dan mendesak.
Lebih dari sekadar langkah pelestarian, menjaga ekosistem gambut juga membuka jalan bagi Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam pasar karbon dunia. Negara dan perusahaan yang menghasilkan emisi berlebih dapat membeli kredit karbon dari Indonesia. Dana yang diperoleh dari mekanisme ini bisa digunakan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, dan memperkuat kapasitas perlindungan lingkungan.
Namun, upaya menjaga gambut tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Peran serta masyarakat, dunia usaha, dan akademisi sangat penting dalam mengedukasi dan mendorong praktik-praktik yang berkelanjutan. Kolaborasi ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa lahan gambut tetap terjaga, baik untuk kepentingan hari ini maupun masa depan.
Menjaga ekosistem gambut adalah bentuk nyata dari keadilan antargenerasi. Generasi masa depan berhak menikmati udara bersih, suhu yang stabil, dan ekosistem yang sehat seperti yang kita rasakan saat ini. Pelestarian gambut adalah investasi jangka panjang bagi bumi dan bangsa.
Akhirnya, menjaga ekosistem gambut bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang keberlanjutan ekonomi dan tanggung jawab global. Ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan dalam aksi iklim dan sekaligus memperkuat kemandirian ekonominya melalui potensi besar yang dimiliki alam kita sendiri.
Berita Utama
-
Bupati M. Yamin Buka Safari Ramadhan 1447 H di Masjid Riyadus Solihin Desa Puri
Bupati M. Yamin Buka Safari Ramadhan 1447 H di Masjid Riyadus Solihin Desa Puri
TAMIANG LAYANG, POTRETKALTENG.COM – Bupati Barito Timur, M. Yamin, memulai rangkaian Safari Ramadhan 1447 H dengan mengunjungi Masjid Riyadus Solihin di Desa Puri, . . .
-
Bupati Bartim Resmikan Kantor Calon Resort GKE Tamiang Layang Timur, Perkuat Pelayanan Jemaat
Bupati Bartim Resmikan Kantor Calon Resort GKE Tamiang Layang Timur, Perkuat Pelayanan Jemaat
TAMIANG LAYANG, POTRETKALTENG.COM – Bupati Barito Timur, M. Yamin, meresmikan Kantor Calon Resort Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Tamiang Layang Timur, Sabtu . . .
-
Satresnarkoba Polres Kapuas Ungkap Kasus Sabu 98,16 Gram di Kapuas Hulu
Satresnarkoba Polres Kapuas Ungkap Kasus Sabu 98,16 Gram di Kapuas Hulu
KUALA KAPUAS, POTRETKALTENG.COM – Satuan Reserse Narkoba Polres Kapuas mengungkap kasus dugaan tindak pidana narkotika jenis sabu di wilayah Kecamatan Kapuas Hulu, . . .
-
Gotong Royong Bersihkan Masjid Nurul Islam, OPD Kalteng Wujudkan Lingkungan Nyaman
Gotong Royong Bersihkan Masjid Nurul Islam, OPD Kalteng Wujudkan Lingkungan Nyaman
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Sebagai wujud kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan kenyamanan tempat ibadah, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) . . .
-
Dishut Kalteng dan Bupati Lamandau Sinkronkan Perhutanan Sosial, TORA, dan Tata Ruang
Dishut Kalteng dan Bupati Lamandau Sinkronkan Perhutanan Sosial, TORA, dan Tata Ruang
PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Lamandau memperkuat sinergi pengelolaan kawasan hutan . . .

















