Raih Dua Penghargaan Nasional, Mahasiswa FK UPR Teliti Doxycycline dan Minyak Kemenyan Lawan Kanker

Potret kalteng 26 Agu 2026, 14:14:13 WIB Palangka Raya
Raih Dua Penghargaan Nasional, Mahasiswa FK UPR Teliti Doxycycline dan Minyak Kemenyan Lawan Kanker

Keterangan Gambar : Keterangan gambar : Tim Boswelli Research Team berfoto bersama usai menerima penghargaan. 30 Juli 2026.




PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM — Siapa sangka, obat antibiotik yang biasa diresepkan dokter untuk jerawat atau infeksi ternyata bisa punya "kehidupan kedua". Itulah yang sedang dibuktikan lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya (FK UPR) yang tergabung dalam Boswelli Research Team. Mereka meneliti doxycycline, si antibiotik yang sudah lama dikenal, dan mencoba mengubahnya menjadi peluang baru dalam riset kanker payudara dengan bantuan bahan yang tak kalah unik: minyak kemenyan.

Baca Lainnya :


Doxycycline dan minyak kemenyan itu kemudian "dikawinkan" dalam bentuk nanoemulsi, semacam ramuan berpartikel sangat halus, jauh lebih kecil dari yang bisa dilihat mata. Penelitian yang diberi nama Dox-FO (Doxycycline–Frankincense Oil) ini masuk dalam Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE) 2026, dengan tagline yang menggemaskan: "Small Particles, Bigger Hope" partikel kecil, harapan besar.


Diketuai oleh Georgia Laura Viwanda dan dibimbing dosen Ysrafil, S.Farm., M.Biomed., tim ini beranggotakan Artha Brighita Seruyaninda, Nissi Asima Lasmaria Sihite, Caysha Early Sephenova, dan Theofany Christian Putra Susilo. Kerja keras mereka tak sia-sia: di ajang Seminar Kreativitas Mahasiswa #3 yang turut dihadiri pembicara dari Malaysia, tim ini pulang membawa 2nd Place Best Poster Awards, sementara Georgia sendiri menyabet 2nd Place Best Presenter Awards.


Perjalanan menuju formulasi itu tidak instan. Tim lebih dulu "berselancar" lewat komputer untuk menganalisis kemungkinan interaksi senyawa dengan protein dalam tubuh, hingga menemukan enam protein kunci sebagai pijakan riset. Barulah setelah itu mereka turun ke laboratorium, meracik nanoemulsi di Laboratorium Biomedik I FK UPR, sebelum sampelnya diuji di sejumlah kampus dan lembaga riset — BRIN, Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Indonesia, Universitas Tanjungpura, hingga Universitas Airlangga. Demi memastikan setiap detail formulasinya benar-benar teruji.


Meski begitu, tim ini memilih berhati-hati. Mereka menegaskan penelitian ini belum sampai pada titik membuktikan nanoemulsinya sebagai obat kanker. Beberapa pengujian, termasuk uji terhadap sel di Universitas Airlangga, masih berjalan hingga kini. "Penelitian ini mengajarkan kami bahwa sebuah inovasi tidak lahir dalam satu langkah," ujar Georgia.


Mereka berharap data yang dikumpulkan bisa menjadi bekal berharga bagi riset-riset selanjutnya, soal menghidupkan kembali obat lama, memanfaatkan kekayaan bahan alam seperti minyak kemenyan, hingga mengembangkan cara baru mengantarkan obat ke dalam tubuh lewat teknologi nano. Kabar terbaru seputar perjalanan mereka bisa dipantau lewat Instagram @doxyboswell.pkm.


Fr







+ Indexs Berita

Berita Utama

Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment