Pemprov Kalteng 2 menit baca • 20 Jul 2026

Karhutla Mulai Mengancam, Faridawaty Minta Pencegahan Diperkuat Sejak Dini

Penulis: Admin Potret Kalteng | Senin, 20 Juli 2026 - 15:18 WIB
Ukuran Teks:
Karhutla Mulai Mengancam, Faridawaty Minta Pencegahan Diperkuat Sejak Dini
Keterangan Gambar: Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh.

PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM- Memasuki musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut mendorong Anggota Komisi III DPRD Kalteng, Faridawaty Darland Atjeh, mengingatkan seluruh pihak agar meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan sejak dini.

Menurut Faridawaty, Karhutla bukan persoalan yang hanya berdampak terhadap lingkungan. Jika tidak segera dicegah dan ditangani, kebakaran dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, hingga roda perekonomian daerah.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Terlebih, sejumlah kawasan gambut di Kalteng memiliki tingkat kerawanan tinggi dan dapat dengan cepat mengalami kebakaran ketika kondisi lahan kering.

“Peristiwa Karhutla yang mulai terjadi ini harus menjadi peringatan bagi kita semua. Jangan sampai kebakaran semakin meluas karena kelalaian atau aktivitas pembakaran lahan. Mencegah jauh lebih mudah daripada memadamkan api yang sudah terlanjur membesar,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Kasus kebakaran di kawasan lahan gambut Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, menjadi salah satu pengingat pentingnya meningkatkan kewaspadaan. Sementara itu, Kabupaten Kotawaringin Timur juga tercatat sebagai salah satu wilayah yang memiliki jumlah titik panas cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data BPBD Kalteng, hingga pertengahan 2026 tercatat sebanyak 323 kasus Karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 456,78 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi kebakaran masih menjadi ancaman serius yang membutuhkan penanganan secara bersama dan terpadu.

Faridawaty menegaskan, dampak Karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Kerusakan ekosistem, hilangnya sumber penghidupan masyarakat, serta munculnya kabut asap dapat memberikan dampak berkepanjangan apabila kebakaran terjadi secara luas.

“Karhutla bukan sekadar membakar semak atau lahan kosong. Dampaknya bisa merusak hutan, menghilangkan sumber penghidupan masyarakat, menimbulkan kabut asap, bahkan mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan apabila terus meluas,” katanya.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak bersikap pasif ketika menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Laporan masyarakat dinilai sangat penting agar petugas dapat melakukan penanganan secepat mungkin sebelum api meluas.

Menurutnya, pencegahan harus dilakukan secara berlapis, mulai dari edukasi kepada masyarakat, patroli di kawasan rawan, pemantauan titik panas, hingga kesiapan personel dan peralatan pemadaman.

Faridawaty juga mendorong Pemerintah Provinsi Kalteng bersama BPBD, aparat keamanan, pemerintah kabupaten/kota, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi menghadapi musim kemarau.

Ia berharap langkah antisipasi dapat dilakukan secara konsisten sehingga potensi Karhutla dapat ditekan sejak awal. Dengan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, Kalteng diharapkan mampu mencegah terulangnya bencana kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan, lingkungan, dan aktivitas masyarakat. (Ken)

Terverifikasi Redaksi: Disusun sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber & Kode Etik Jurnalistik oleh redaksi POTRET KALTENG.
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita Ini?
Terima kasih atas tanggapan Anda!