PALANGKA
RAYA, POTRETKALTENG.COM –
Ketekunan dan kecintaan terhadap budaya lokal menjadi kunci sukses bagi Maria,
perempuan muda asal Kalimantan Tengah. Di usia 29 tahun, ia berhasil
mengembangkan usaha kuliner tradisional wadi, makanan fermentasi khas
suku Dayak, hingga menembus pasar nasional dengan omzet mencapai Rp 19,2 juta
per bulan.
Berawal
dari rumah di Desa Parit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Maria memulai usahanya
pada 1 September 2019. Ia belajar sendiri proses fermentasi wadi dari
ikan dengan bahan alami tanpa pengawet. Awalnya hanya dijual di lingkungan
sekitar, namun berkat ketekunan dan inovasi, kini produknya diminati hingga
luar pulau, termasuk Papua.
Maria
melakukan terobosan dengan menyesuaikan cita rasa wadi agar lebih
modern. “Dulu wadi terkenal sangat asin, tapi sekarang saya buat
seimbang, asin dan asamnya pas, bisa langsung digoreng jadi kriuk,” ujarnya.
Dua varian rasa — original dan pedas — menjadi favorit konsumen, dengan harga
mulai Rp 80 ribu per kemasan, tergantung jenis ikan yang digunakan.
Selain
memperhatikan rasa, Maria juga berinovasi dalam kemasan. Desainnya dibuat
menarik dan praktis agar lebih diterima di pasar modern. Inovasi ini tidak
hanya meningkatkan nilai jual, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya lokal
Kalimantan Tengah.
Bagi Maria,
berwirausaha bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga melestarikan
tradisi. Ia berharap generasi muda, terutama perempuan, dapat meneladani
semangat berusaha dari rumah. “Kita bisa sukses tanpa meninggalkan akar budaya.
Yang penting, konsisten dan mau belajar,” pesannya.
RH

0 Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!