MUARA TEWEH, POTRETKALTENG.COM – Kondisi infrastruktur jalan nasional yang menghubungkan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, tepatnya pada ruas Muara Teweh-Ampah, kini menjadi sorotan tajam. Meski berstatus sebagai urat nadi ekonomi antarprovinsi, lebar badan jalan di wilayah Barito Utara tersebut dinilai sudah tidak memadai lagi bagi mobilitas kendaraan saat ini.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sempitnya jalur ini memaksa para pengguna jalan ekstra waspada. Fenomena kendaraan yang harus "mengalah" dengan menurunkan salah satu ban ke bahu jalan saat berpapasan menjadi pemandangan sehari-hari. Hal ini tidak hanya memperlambat arus lalu lintas, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan fatal.
Kondisi ini dianggap kontras dengan status Kabupaten Barito Utara sebagai salah satu daerah penyumbang cadangan batubara terbesar bagi negara. Sebagai wilayah industri pertambangan, ruas jalan ini rutin dilalui oleh kendaraan operasional logistik dan alat berat yang memiliki dimensi lebar.
Seorang pengguna jalan mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi yang dianggap "darurat pelebaran" tersebut.
"Sangat miris, jalan utama antarprovinsi tapi lebarnya seperti jalan lingkungan. Kalau berpapasan dengan truk besar, salah satu harus keluar aspal. Ini bahaya kalau musim hujan karena bahu jalannya licin," keluhnya.
Masyarakat mendesak Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR untuk segera melakukan peninjauan dan realisasi pelebaran jalan. Mengingat kontribusi besar Barito Utara terhadap devisa negara melalui sektor pertambangan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas infrastruktur nasional di wilayah ini seharusnya menjadi prioritas utama.
Tanpa adanya langkah cepat, dikhawatirkan kerusakan jalan akan semakin parah akibat beban kendaraan yang tidak sebanding dengan lebar jalan, sekaligus menjadi ancaman nyata bagi keselamatan nyawa para pelintas.
RT

0 Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!