Barito Timur 3 menit baca • 1 jam lalu

Karhutla Bartim Capai 1.205 Hektare, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

Penulis: Admin Potret Kalteng | Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:40 WIB
Ukuran Teks:
Karhutla Bartim Capai 1.205 Hektare, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya
Keterangan Gambar: Penanganan Karhutla di Desa Muara Pelantau Kabupaten Barito Timur.

 

 

TAMIANG LAYANG, POTRETKALTENG.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Timur (Bartim), Kalimantan Tengah, terus menjadi perhatian serius. Hingga 18 Oktober 2026, tercatat sebanyak 796 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.205 hektare. Kondisi ini turut diikuti memburuknya kualitas udara, dengan rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) selama tujuh hari terakhir mencapai 833,1 atau masuk kategori berbahaya berdasarkan data yang dilaporkan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan data tersebut tercatat dalam dashboard pemantauan karhutla milik BPBD Damkar. Selain jumlah kejadian dan luas lahan terbakar, sistem tersebut juga mencatat 1.799 titik panas atau *hotspot* di wilayah setempat.

“Berdasarkan data hingga 18 Oktober 2026, tercatat 796 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 1.205 hektare. Selain itu, terdapat 1.799 titik panas yang tercatat dalam dashboard pemantauan,” ujarnya.

Berdasarkan sebaran wilayah, Kecamatan Karusen Janang menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 165 kejadian dengan luas lahan terbakar 199,6 hektare. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Paju Epat dengan 135 kejadian dan luas kebakaran 164,6 hektare.

Sementara itu, Kecamatan Pematang Karau mencatat 117 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 233,1 hektare. Angka tersebut menjadi yang terbesar dari sisi luas lahan terbakar dibandingkan sembilan kecamatan lainnya, meskipun jumlah kejadiannya tidak tertinggi.

Adapun Kecamatan Dusun Timur mencatat 113 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 70,9 hektare. Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kejadian kebakaran di suatu wilayah tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terdampak.

Rekapitulasi bulanan juga memperlihatkan peningkatan kejadian karhutla selama Agustus dan September 2026. Pada Agustus, tercatat 360 kejadian dengan luas lahan terbakar 420,8 hektare. Kemudian, pada September, sebanyak 327 kejadian mengakibatkan kebakaran lahan seluas 558,9 hektare.

Sementara itu, sepanjang Oktober hingga pembaruan data pada 18 Oktober 2026, tercatat 60 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 173 hektare.

Parluhutan menjelaskan bahwa pemantauan terhadap jumlah kejadian, luas lahan terdampak, dan persebaran titik panas menjadi bagian penting dalam mengetahui perkembangan karhutla di wilayah Barito Timur.

Selain kerusakan lahan, dampak terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian. Dashboard BPBD Damkar mencatat 713 kejadian wabah penyakit, dengan 326 jiwa terdampak diare dan 2.915 jiwa mengalami ISPA.

Kondisi kualitas udara turut menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data pada 15 Oktober 2026, nilai ISPU di Kecamatan Paju Epat tercatat mencapai 3.062, disusul Kecamatan Paku sebesar 2.910, Raren Batuah 2.250, Dusun Tengah 1.914, dan Awang 1.850. Seluruh angka tersebut ditandai sebagai kategori berbahaya dalam dashboard yang menjadi sumber data.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga melakukan upaya pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat melalui pendistribusian air bersih. Hingga pembaruan data tersebut, penyaluran air bersih telah menjangkau 1.936 kepala keluarga dengan total volume mencapai 190.700 liter.

Pemantauan titik panas selama dua hari terakhir juga menemukan dua titik di Desa Juru Banu, Kecamatan Paju Epat, dengan jarak sekitar tiga kilometer, serta satu titik di Desa Lalap, Kecamatan Patangkep Tutui, dengan jarak sekitar 0,3 kilometer.

Selain itu, dashboard pemantauan mengidentifikasi enam desa berisiko tinggi yang belum tercatat mengalami kejadian karhutla sepanjang 2026. Wilayah tersebut menjadi sasaran yang perlu diperhatikan dalam kegiatan patroli dan pemantauan untuk mengantisipasi potensi kebakaran.

Parluhutan menegaskan bahwa data pemantauan tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan karhutla, kondisi kualitas udara, dampak kesehatan, serta kebutuhan air bersih masyarakat di Kabupaten Barito Timur.

Pemantauan secara berkelanjutan diperlukan agar perkembangan situasi dapat diketahui secara menyeluruh dan menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan sesuai kondisi di lapangan.

“Data ini memperlihatkan perkembangan karhutla sekaligus dampak yang perlu menjadi perhatian bersama. Pemantauan kondisi kebakaran, kualitas udara dan kebutuhan masyarakat tetap penting agar perkembangan situasi di Barito Timur dapat diketahui secara menyeluruh,” pungkasnya. (Lz)

Terverifikasi Redaksi: Disusun sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber & Kode Etik Jurnalistik oleh redaksi POTRET KALTENG.
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita Ini?
Terima kasih atas tanggapan Anda!