Pemprov Kalteng 3 menit baca • 2 jam lalu

Inflasi Kalteng September 2026 Capai 5,02 Persen

Penulis: Admin Potret Kalteng | Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:40 WIB
Ukuran Teks:
Inflasi Kalteng September 2026 Capai 5,02 Persen
Keterangan Gambar: Pemaparan Press Release di Ruang Vicon BPS Kalteng. (Foto:Yariyanto)

PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi periode September 2026. Berdasarkan hasil pemantauan di empat kabupaten/kota sampel, inflasi Kalimantan Tengah secara tahunan tercatat mencapai 5,02 persen.
Rilis perkembangan indikator ekonomi tersebut disampaikan Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Tengah, M. Taufiqurrahman, dalam kegiatan yang berlangsung di ruang Vicon BPS Kalteng, Kamis (1/10/2026). Kegiatan tersebut juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube BPS Kalteng.

M. Taufiqurrahman menyampaikan, berdasarkan hasil pemantauan BPS, Kalimantan Tengah mengalami inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 5,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,51. Sementara itu, inflasi month-to-month (m-to-m) tercatat sebesar 0,40 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) mencapai 3,21 persen.

“Berdasarkan hasil pemantauan BPS di empat kabupaten/kota sampel, seluruh wilayah mengalami inflasi secara tahunan. Inflasi year-on-year tertinggi terjadi di Kabupaten Kapuas sebesar 6,00 persen dengan IHK 114,65. Sedangkan inflasi terendah tercatat di Sampit sebesar 4,21 persen dengan IHK 112,55,” ujar M. Taufiqurrahman dalam pemaparannya.

Ia menambahkan, Kabupaten Sukamara mencatat inflasi tahunan sebesar 5,26 persen dan menjadi wilayah dengan inflasi bulanan tertinggi, yakni mencapai 1,03 persen. Sementara Kota Palangka Raya mengalami inflasi tahunan sebesar 4,73 persen.

Menurutnya, tekanan inflasi tahunan pada September 2026 terjadi karena adanya kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran yang dipantau dalam IHK.

“Laju inflasi tahunan September 2026 didorong oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi secara persentase terjadi pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 8,18 persen,” jelasnya.

Meski demikian, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi kelompok yang memberikan andil paling besar terhadap inflasi Kalimantan Tengah, yakni sebesar 2,91 persen. Selain itu, kelompok Transportasi memberikan andil 0,60 persen dan kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 0,30 persen.

Kelompok pengeluaran lainnya juga mengalami kenaikan, di antaranya Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga sebesar 2,66 persen; Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 2,54 persen; Pakaian dan Alas Kaki 2,16 persen; Pendidikan 2,13 persen; Kesehatan 1,99 persen; Rekreasi, Olahraga, dan Budaya 1,46 persen; serta Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,45 persen.

Dari sisi komoditas, M. Taufiqurrahman menyebut beras menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan andil sebesar 0,87 persen. Komoditas lainnya yakni emas perhiasan sebesar 0,42 persen, ikan nila 0,35 persen, bensin 0,33 persen, cabai rawit 0,20 persen, minyak goreng 0,17 persen, bahan bakar rumah tangga 0,15 persen, serta ikan patin 0,15 persen.

“Secara bulanan, komoditas yang menjadi pemicu utama kenaikan indeks harga antara lain ikan nila dengan andil 0,08 persen, cabai rawit 0,07 persen, ketimun 0,04 persen, kacang panjang 0,04 persen, solar 0,04 persen, dan beras sebesar 0,03 persen,” katanya.

Di sisi lain, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi. Daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,15 persen secara tahunan dan 0,12 persen secara bulanan. Selain itu, bawang merah memberikan andil deflasi tahunan sebesar 0,08 persen, sedangkan angkutan udara juga mengalami penurunan harga dengan andil deflasi sebesar 0,02 persen secara tahunan dan 0,05 persen secara bulanan.

BPS juga mencatat adanya peningkatan tekanan inflasi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada September 2025, inflasi year-on-year Kalimantan Tengah tercatat sebesar 2,35 persen, sedangkan pada September 2026 meningkat menjadi 5,02 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan harga di Kalimantan Tengah pada September 2026 masih menghadapi tekanan, terutama dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat.(yz)

Terverifikasi Redaksi: Disusun sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber & Kode Etik Jurnalistik oleh redaksi POTRET KALTENG.
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita Ini?
Terima kasih atas tanggapan Anda!