Pemprov Kalteng 1 menit baca • 4 hari lalu

RAPAT EVALUASI KARHUTLA, GUBERNUR AGUSTIAR TEKANKAN KERJA BERSAMA

Penulis: Admin Potret Kalteng | Jumat, 4 September 2026 - 11:37 WIB
Ukuran Teks:
RAPAT EVALUASI KARHUTLA, GUBERNUR AGUSTIAR TEKANKAN KERJA BERSAMA
Keterangan Gambar: Pembukaan Rakor Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang (Foto:Yariyanto)

 

 

PALANGKA RAYA, POTRETKALTENG.COM – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng membutuhkan kesiapan jangka panjang. Puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026 diprediksi masih berlanjut hingga akhir Oktober bahkan awal November.

Penegasan itu disampaikan Agustiar saat memimpin Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah di Aula Jayang Tingang, Lantai II Kantor Gubernur Kalteng, Kamis (3/9/2026).

Rapat tersebut dihadiri jajaran Pemprov Kalteng, Forkopimda, serta para bupati dan wali kota se-Kalteng.
Agustiar mengibaratkan penanganan karhutla seperti lari maraton, bukan perlombaan jarak pendek. Artinya, seluruh pihak harus memiliki ketahanan, konsistensi, kesiapan, dan koordinasi yang kuat menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi berlangsung dalam waktu panjang.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman api. Dampak karhutla terhadap masyarakat juga harus menjadi perhatian, termasuk memastikan ketersediaan air bersih bagi warga terdampak serta dukungan anggaran untuk menghadapi kondisi darurat.

“Kita harus siap menghadapi kondisi yang panjang, bukan hanya hari ini. Dampaknya juga harus kita tangani, termasuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi dan dukungan anggaran tersedia,” tegas Agustiar.

Dalam rapat tersebut, Pemprov Kalteng bersama Forkopimda juga melakukan penandatanganan Maklumat Bersama sebagai bentuk komitmen memperkuat pencegahan dan penanganan karhutla di wilayah Kalteng.

Gubernur menekankan, maklumat tersebut tidak boleh sekadar menjadi dokumen seremonial. Komitmen harus diterjemahkan dalam tindakan nyata di lapangan, terutama dalam memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau.

Sinergi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, TNI-Polri, dunia usaha, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi faktor penting untuk menekan risiko karhutla.

“Ancaman karhutla bukan hanya persoalan api, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, lingkungan, serta keberlangsungan aktivitas warga. Karena itu, semua pihak harus bergerak bersama,” pungkasnya. (Yz)

Terverifikasi Redaksi: Disusun sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber & Kode Etik Jurnalistik oleh redaksi POTRET KALTENG.
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita Ini?
Terima kasih atas tanggapan Anda!