Pemprov Kalteng 2 menit baca • 08 Nov 2024

Kepala BPSDM Kalteng Jadi Narasumber pada Post Assessment Polda Kalteng

Penulis: Admin Potret Kalteng | Jumat, 8 November 2024 - 14:15 WIB
Ukuran Teks:
Kepala BPSDM Kalteng Jadi Narasumber pada Post Assessment Polda Kalteng
Keterangan Gambar: Rahmawati, pada saat memaparkan materinya di hadapan peserta pelatihan

PALANGKARAYA,

POTRETKALTENG.com – Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Kalimantan Tengah, Rahmawati, menjadi narasumber dalam acara Post Assessment yang diselenggarakan oleh Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Tengah. Acara yang berlangsung di Hotel Bahalap, Jalan RTA Milono, Palangka Raya, pada Jumat (8/11/2024), mengusung materi tentang Kompetensi Manajemen Konflik dan dihadiri oleh anggota kepolisian serta pejabat terkait.


Dalam sesi tersebut, Rahmawati menyampaikan pentingnya penguasaan manajemen konflik bagi aparat kepolisian. Ia menjelaskan bahwa kemampuan untuk menangani konflik secara efektif sangat diperlukan, mengingat tantangan yang sering muncul di lapangan dapat melibatkan ketegangan antara berbagai pihak.


“Manajemen konflik bukan hanya tentang menyelesaikan masalah, tetapi juga untuk membangun dan menjaga hubungan baik antara polisi dan masyarakat,” ujar Rahmawati.


Selanjutnya, Rahmawati menjelaskan lima gaya manajemen konflik yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, antara lain:

1. Gaya Penghindaran (Avoiding) – Menghindari konflik dengan tidak mengambil tindakan. Meskipun bisa meredakan ketegangan sementara, gaya ini tidak menyelesaikan masalah dan bisa memperburuk keadaan.

2. Gaya Penyerahan (Accommodating) – Mengutamakan kepentingan pihak lain untuk meredakan konflik. Gaya ini efektif dalam beberapa situasi, namun penggunaan berlebihan dapat menyebabkan rasa tidak dihargai.

3. Gaya Kompetisi (Competing) – Menekankan pada kemenangan satu pihak. Gaya ini berguna dalam situasi darurat, tetapi dapat merusak hubungan antar pihak.

4. Gaya Kolaborasi (Collaborating) – Semua pihak bekerja sama untuk menemukan solusi yang saling menguntungkan. Meskipun memerlukan waktu dan usaha, gaya ini cenderung menghasilkan hasil yang lebih memuaskan dan memperkuat hubungan.

5. Gaya Kompromi (Compromising) – Kedua pihak membuat konsesi untuk mencapai kesepakatan. Gaya ini efektif dan cepat, terutama ketika kepentingan kedua belah pihak relatif seimbang.


Rahmawati berharap, dengan pemahaman yang lebih baik tentang kelima gaya manajemen konflik ini, anggota kepolisian dapat menangani situasi konflik dengan lebih efektif dan menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan masyarakat.


“Melalui pemahaman dan penerapan manajemen konflik yang tepat, diharapkan anggota kepolisian dapat menciptakan situasi yang aman dan kondusif, serta mempererat hubungan dengan masyarakat Kalimantan Tengah,” tambahnya.


Acara ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di lingkungan kepolisian. Selain itu, acara ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara aparat kepolisian dan masyarakat, sehingga tercipta situasi yang lebih aman dan harmonis di wilayah Kalimantan Tengah.(yin)



mmc kalteng

Terverifikasi Redaksi: Disusun sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber & Kode Etik Jurnalistik oleh redaksi POTRET KALTENG.
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita Ini?
Terima kasih atas tanggapan Anda!