Barito Selatan 2 menit baca • 1 jam lalu

BPBD Barsel Ungkap Karhutla Lokal Jadi Penyebab Kabut Asap Pekat

Penulis: Admin Potret Kalteng | Selasa, 13 Oktober 2026 - 06:33 WIB
Ukuran Teks:
BPBD Barsel Ungkap Karhutla Lokal Jadi Penyebab Kabut Asap Pekat
Keterangan Gambar: Tim sedang memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Barito Selatan.

 

 

BUNTOK, POTRETKALTENG.COM- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, menyebut tingginya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah setempat menjadi penyebab utama kabut asap pekat yang menyelimuti daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Kepala Pelaksana BPBD Barsel, Agus In'Yulius, mengatakan bahwa kesimpulan tersebut didasarkan pada hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sanggu serta pemantauan titik panas di wilayah Barito Selatan.

Berdasarkan pemantauan pada Jumat (9/10/2026) pukul 06.00 WIB, terdeteksi sebanyak 383 titik panas. Kecamatan Dusun Selatan menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas yang masih tinggi.

Data Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan melalui Sipongi juga menunjukkan sejumlah desa dengan konsentrasi titik panas tertinggi selama periode 1 Agustus hingga 8 Oktober 2026. Desa Madara tercatat memiliki 1.567 titik panas, disusul Sungai Jaya sebanyak 1.256 titik, Kalahien 1.038 titik, Marawan Lama 744 titik, dan Kelurahan Mangkatip sebanyak 344 titik.

Selain itu, data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) dari Eropa menunjukkan konsentrasi aerosol atau partikel halus berupa asap dan debu yang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan.

Agus menjelaskan, berdasarkan berbagai data tersebut, sumber asap diperkirakan berasal dari kebakaran di wilayah Barito Selatan, kemudian menyebar ke daerah lain yang memiliki lebih sedikit titik panas atau bahkan tidak terdeteksi titik panas.

Kecepatan angin di wilayah Barito Selatan yang berkisar 2–5 knot atau sekitar 1,8–9,3 kilometer per jam juga menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam analisis tersebut.

Sementara itu, kualitas udara di Barito Selatan tercatat berada pada kategori berbahaya. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Jumat (9/10/2026) pukul 07.00 WIB, konsentrasi partikulat PM10 mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM2.5 tercatat sebesar 659 mikrogram per meter kubik. Kedua angka tersebut melampaui ambang batas 300 mikrogram per meter kubik yang disebutkan dalam laporan.

Menanggapi kondisi tersebut, BPBD Barsel mengimbau masyarakat dan seluruh pihak terkait agar meningkatkan kewaspadaan serta berperan aktif dalam mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.

Agus menegaskan bahwa pencegahan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat.

Ia meminta warga tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.

Selain itu, masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan lahan gambut diminta meningkatkan kewaspadaan, mengingat kondisi cuaca yang sangat kering dapat memperbesar risiko kebakaran. Menurutnya, kejadian karhutla yang berulang di lokasi yang sama juga menunjukkan perlunya perhatian terhadap faktor kelalaian maupun dugaan kesengajaan.

BPBD Barsel berharap seluruh elemen masyarakat dapat bekerja sama menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya kebakaran lanjutan, sehingga dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat dapat diminimalkan. (Lz)

Terverifikasi Redaksi: Disusun sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber & Kode Etik Jurnalistik oleh redaksi POTRET KALTENG.
Bagaimana Reaksi Anda Tentang Berita Ini?
Terima kasih atas tanggapan Anda!